Sunday, 28 May 2017

Kategori & Hukum Hafalan Al-Qur’an yang Hilang



Menurut banyak orang menghafal Al-Qur’an itu mudah, akan tetapi menjaganya agar tetap hafal itulah yang sangat sulit. Ukuran orang hafal itu sampai ia bisa membaca Al-Qur’an diluar kepala tanpa melihat mushaf. Namun, sebaiknya kita tidak menggunakan standard seperti itu karena standar tersebut sangat tinggi. Sungguh sangat berat jikalau semua yang sudah kita hafal standarnya harus bisa dibaca semua diluar kepala tanpa melihat mushaf. Dalam menjaga hafalan Al-Qur’an, sejatinya adalah dengan selalu membacanya dan berusaha menghafalkannya sampai lancar diluar kepala dan kewajiban menjaga hafalan ini berlangsung sampai seumur hidup. Kenapa hilangnya hafalan itu diharamkan dan termasuk dosa besar? Itu karena sebab kecerobohan, bermalas-malasan dan meremehkan Al-Qur’an. Jadi selama tidak ada unsur tersebut, maka tidak mengapa. Terus bagaimana batasan hafalan Al-Qur’an itu dianggap hilang?. Lalu apa kewajibannya jikalau hafalan tersebut hilang?. Dan apa akibatnya apabila sengaja melupakan hafalan Al-Qur’an sebab ceroboh dan bermalas-malasan?. Mari kita ulas satu persatu.

Batasan haramnya hafalan Al-Qur’an seseorang dianggap hilang atau lupa, dalam hal ini ada beberapa pendapat dari para ulama’.

Kalangan Syafi’iyyah : Hafalan Al-Qur’an dianggap hilang yaitu sekiranya tidak ingat lagi ayat yang sudah pernah hafal diluar kepala sehingga membutuhkan waktu untuk menghafalkannya lagi secara berulang-ulang. Hafalan yang dulunya lancar menjadi tidak lancar dan ia butuh waktu untuk menghafalnya kembali. Hal ini hukumnya haram menurut kalangan Syafi’iyyah.

Kalangan Hanafiyyah : Menurut Imam Abu Yusuf dari kalangan madzhab Hanafi menyatakan bahwa batasan lupa terhadap Al-Qur’an yang diharamkan adalah sekiranya orang tersebut tidak mampu lagi membacanya dengan mushaf (melihat mushaf). Menurut madzhab Hanafi ini, batasan lupa atau hilangnya hafalan yang diharamkan itu ketika ada orang yang dulunya ia hafal Al-Qur’an dan karena kecerobohannya hingga ia tidak sanggup lagi membaca Al-Qur’an walau dengan melihat mushaf.

Dalilnya Kitab Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubra juz 1 halaman 37.

وقد علم مما قررته أن المدار فى النسيان إنما هو على الإزالة عن القوة الحافظة بحيث صار لا يحفظه عن ظهر قلب كالصفة التي كان يحفظه عليها قبل ونسيان الكتابة لا شيئ فيه ولو نسيه عن الحفظ الذى كان عنده ولكنه يمكنه أن يقرأه فى المصحف لم يمنع ذلك عنه إثم النسيان لأنا متعبدون بحفظه عن ظهر قلب ومن ثم صرح الأئمة بأن حفظه كذلك فرض كفاية على الأمة وأكثر الصحابة كانوا لا يكتبون وإنما يحفظونه عن ظهر قلب وأجاب بعضهم عن الحديث الثاني بأن نسيان مثل الأية أو الآيتين لا عن قصد لا يخلو منه إلا النادر وإنما المراد نسيان ينسب فيه إلى تقصير وهذا غفلة عما قررته من الفرق بين النسيان والإسقاط. فالنسيان بالمعنى الذي ذكرته حرام بل كبيرة ولو لآية منه كما صرحوا به بل ولو لحرف كما جزمت به فى شرح الإرشاد وغيره. لأنه متى وصل به النسيان ولو للحرف إلى أن صار يحتاج فى تذكره إلى عمل وتكرير فهو مقصر آثم . ومتى لم يصل إلى ذلك بل يتذكره بأدنى تذكير فليس بمقصر. وهذا هو الذي قل من يخلو عنه من حفاظ القرآن فسومح به وما قدمته من حرمة النسيان وإن أمكن معه القراءة من المصحف نقله بعضهم عن جماعة من محققي العلماء وهو ظاهر جلي. والله أعلم بالصواب.

“Dan keputusan saya yang sudah diketahui, bahwasannya permasalahan lupa disini yaitu hilangnya kekuatan hafalan yang dulu pernah hafal diluar kepala. Lupa tulisan (mushaf) bukan termasuk kategori lupa. Jika ada seseorang yang hilang hafalannya akan tetapi dia masih memungkinkan dengan membaca mushaf. Hal tersebut tidak mencegah ia terhindar dari dosanya hafalan yang hilang (lupa) karena kategori (seorang hafidz) dianggap ibadah disini adalah dengan hafalan Al-Qur’an diluar kepala. Para imam (ulama) menjelaskan bahwasannya menghafal Al-Qur’an itu hukumnya fardhu kifayah untuk semua umat. Kebanyakan sahabat (dulu) tidak menulis Al-Qur’an, akan tetapi mereka menghafalnya diluar kepala. Sebagian ulama menjawab masalah hadits kedua, bahwasannya lupa satu ayat atau dua ayat dengan disengaja itu termasuk hal yang langka. Yang dimaksud hafalan hilang (lupa) itu dikaitkan pada kecerobohannya dan ini termasuk kelalaian yang saya maksudkan serta menjadi pembeda antara lupa (karena lalai) dan gugur. Adapun yang dimaksud hafalan lupa adalah hafalan yang pernah dihafal itu hukumnya bukan lagi haram akan tetapi dosa besar walaupun lupa satu ayat atau satu huruf sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kitab Al-Irsyad dan lainnya. Yang mana hafalan itu membutuhkan waktu untuk menghafalkannya lagi secara berulang-ulang, maka lupanya itu termasuk lupa yang ceroboh dan mendapatkan dosa apabila tidak dihafalkan kembali. Namun apabila masih ada usaha untuk menghafalkannya kembali maka hal tersebut bukan termasuk lalai. Sedikit sekali para penghafal Al-Qur’an yang lalai dari hilangnya hafalan. Meski lupa ia masih memungkinkan untuk membaca dengan menggunakan mushaf. Sebagaimana yang telah dinukil dari sebagian golongan ulama. Dan hal tersebut sudah sangat jelas. Wallahu A’lam bish Showab".

Kitab Mathalib Ulin Nuha juz 3 halaman 266.

(وحرم) تأخير الختم فوق أربعين (إن خاف نسيانه قال) الإمام (أحمد ما أشد ما جاء فيمن حفظه ثم نسيه قال أبو يوسف يعقوب) صاحب الإمام أبي حنيفة ( فى معنى حديث نسيان القرآن المراد بالنسيان أن لا يمكنه القراءة فى المصحف) وهو من أحسن ما قيل في ذلك (ونقل إبن رشد المالكي الإجماع على أن من نسي القرآن لإشتغاله بعلم واجب أو مندوب فهو غير مأثوم).

“(Dan diharamkan bagi penghafal Al-Qur’an) ia harus hatam 30 juz tidak lebih dari 40 hari (apabila ia takut hafalannya lupa. Imam Ahmad berkata: Sangat besar sekali dosanya orang yang pernah menghafal Al-Qur’an kemudian ia melupakannya. Abu Yusuf Ya’qub berkata) beliau penganut Imam Abu Hanifah (yang dimaksud hafalan yang lupa itu sekiranya ia tidak mampu untuk membaca Al-Qur’an dengan menggunakan mushaf) hal ini lebih ringan dari yang telah disebutkan. (Ibnu Rusydi dari Madzhab Maliki menukil Ijma’ ulama bahwa orang yang hafalan Al-Qur’annya lupa karena kesibukannya dengan mempelajari ilmu-ilmu yang wajib atau ilmu-ilmu yang disunnahkan, maka lupanya tidak menyebabkan ia berdosa)”.

Penghafal Al-Qur’an yang sudah baligh lantas ia melupakan Al-Qur’an sebab ceroboh dan bermalas-malasan, maka baginya dosa besar dan wajib hukumnya untuk menghafalkannya kembali jika masih memungkinkan. Imam Ramli pernah berfatwa tentang hal ini dalam kitabnya Fatawi Ar-Ramli juz 6 halaman 251 (Maktabah Syamilah).

(سئل) عمن نسي القرآن هل يجب عليه حفظه أم لا، فإن قلتم بوجوبه فهل تركه كبيرة، وهل يفرق بين البالغ وغيره؟ (فأجاب) بأنه إن نسيه وهو بالغ تهاونا وتكاسلا كان نسيانه كبيرة ويجب عليه حفظه إن تمكن منه للخروج عن المعصية.

"(Imam Ramli ditanya) tentang masalah penghafal Al-Qur’an yang melupakan hafalannya. Apakah wajib baginya untuk menghafalnya kembali atau tidak?. Jika wajib, apakah meninggalkannya (tidak mau menghafalnya kembali) merupakan dosa besar?. Dan apakah ada perbedaan antara yang sudah baligh dan yang selainnya?. (Imam Ramli menjawab) bahwasannya apabila penghafal Al-Qur’an tersebut melupakan hafalannya karena kecerobohannya dan bermalas-malasan, sedangkan ia sudah baligh, maka hal tersebut termasuk dosa besar dan wajib baginya untuk menghafalnya (kembali) jika masih mungkin karena hal tersebut bertujuan untuk keluar (terhindar) dari kemaksiatan (karena melupakan hafalan Al-Qur’an termasuk maksiat)”.

Perlu kita fahami bersama bahwasannya hilangnya hafalan Al-Qur’an itu disebabkan oleh kecerobohan, kelalaian, dosa-dosa dan maksiat yang dilakukan oleh penghafal Al-Qur’an itu sendiri. Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata : Abu Ubaid meriwayatkan dari Thariq Ad-Dhahak bin Muzahim secara mauquf.

مَا مِنْ أَحَدٍ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ نَسِيَهُ إِلَّا بِذَنْبٍ أَحْدَثَهُ

"Tidaklah seseorang yang menghafal dan mempelajari Al Qur'an lalu ia melupakannya kecuali karena dosa yang telah ia lakukan."

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
"Tidak ada musibah yang menimpa kalian kecuali disebabkan dosa-dosa yang kalian lakukan." (Asy Syura: 30)

Dan melupakan hafalan Al-Qur’an termasuk musibah yang sangat besar yang menimpa para penghafal Al-Qur’an. Kemudian beliau berkata:

وَنِسْيَانُ الْقُرْآنِ مِنْ أَعْظَمِ الْمَصَائِبِ

"Melupakan Al Qur'an termasuk musibah yang paling besar."
(Fathul Baari, juz 9 halaman 86)
Wallahu A’lam.

Muhammad Abdul Fatah
Penulis Buku "Memorizing Al-Quran, Why Not?!; Pedoman Menghafal Al-Quran untuk Para Pelajar, Santri & Mahasiswa"

No comments:

Post a Comment