Sunday, 28 May 2017

"Hasyiim"



Dalam surat al-Kahfi, terdapat kata menarik yang dipilih al-Quran yaitu kata hasyiim (هَشِيمً). Kata ini menyimpan jalinan dengan nama kakek buyut (great-grandftaher) Nabi Muhammad, ‘Amr al-‘Ula putra Abdu Manaf sebagai pendiri Banu Haasyim. Jika kita telusuri nasab Nabi, ‘Amr adalah ayahnya Abdul Muthallib, kakek Nabi Muhammad SAW. ‘Amr al-‘Ula digelari oleh masyarakat Quraish dengan  nama Haasyim (هاشم) karena kepemurahannya dan jiwa sosialnya yang memukau. ‘Amr al-‘Ula dijuluki dengan Haasyim karena beliau menginisiasi kegiatan untuk menyediakan bubur untuk para jamaah haji di Mekkah. Beliau memiliki kemampuan untuk menghancurkan biji-bijian untuk beliau rubah menjadi bubur (al-tsarid). Karena itu kata haasyiim secara lughawi berarti hancur, pudar, membusuk-mengering, rusak, dan remuk (1).  Berkat kebiasannya menghancurkan biji-biji gandum dan yang semacamnya untuk dibuat bubur bagi mereka yang lapar beliau dikenal sebagai Haasyim, sang penghancur (the crusher).

Namun kebaikan Hasyim tidak saja bagi mereka yang berhaji, Haasyim juga menyediakan dan memberi makan untuk masyarakat Mekkah saat dilanda masa kelaparan. Karena itu, sebagian makna kata haasyim diduga berasal dari kata hasym yang berarti menjaga dari kelaparan. Karena jiwa dan tindakan mulyanya,  buyut Nabi ini dipanggil dengan gelaran Haasyim yang berarti orang yang memberi makan mereka yang kelaparan (the man who fed the starving/هشم الجياع‎‎) (2)

Yang menarik juga dari Haasyim adalah cerita eksotis dan berdarah-darah saat beliau dilahirkan kedunia. Abdu Manaf-ayahnya- memiliki lima orang anak; Abdu Syams, Barra, Muthallib, Hala, dan Haasyim. Dari anak cucu Abdu Syams muncul kelak menjadi dinasti Umayyah dan dari Hasyim kelak lahir dinasti ‘Abbasiyyah. Saat istri Abdu Manaf, ‘Atikah bint Murrah, melahirkan Haasyim, ia terlahir kembar dempet dengan Abdu Syams. Diceritakan kaki bayi Haasyim menempel dikepala Abdu Syams. Melihat keadaan ini, ayahnya mengambil pedang dan memisahkan keduanya dengan selamat. Namun sebagian para dukun dan pendeta Arab melihatnya, bahwa darah yang muncrat dari keduanya adalah simbol bahwa kelak keturunan mereka akan berkelahi hingga mengalirkan darah ketanah (3).

Bagaimana Al-Quran menggunakan kata hasyiim yang menarik ini ?. Kata ini terekam sebagai berikut:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu(Qs. Al-Kahfi ayat 45).

Dalam ayat ini, hasyiim digambarkan sebagai akhir dari kehidupan dunia. Ayat indah ini diawali dengan kata wadhrib (وَاضْرِبْ) yang diartikan oleh banyak mufassir dengan makna jadikanlah (اجعل/ صير) atau tuturkanlah (اذكر) (4) Sebenarnya secara tekstual makna wadhrib adalah “dan pukullah”. Kata ini dipilih karena secara implisit ayat ini seperti ingin mengesankan makna bahwa perumpamaan yang dibuat Allah ini harus memberikan efek, harus memukul kesadaran dan batin sehingga membekas dalam diri. Bukankah seorang yang terpukul akan memar dan merasakan rasa sakit. Perumpumaan kehidupan dunia yang digambarkan al-Kahfi ini mestinya harus mememarkan batin dan terasa membekas dalam kesadaran pembaca al-Quran.

Allah secara indah menggambarkan kehidupan dunia seperti air hujan yang diturunkan dari langit (كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ). Imam al-Qurthubi menjelaskan kenapa kehidupan dunia ini laksana air. Air tidak pernah menetap di satu tempat, tidak juga menetap dalam satu keadaan, tidak pernah kekal dan selalu berubah, demikian juga dengan dunia. Siapapun yang masuk ke dalam air tidak akan dapat menghindar dari basahnya, demikian juga dengan dunia; siapa yang menceburkan diri ke dalamnya tidak akan lepas dari fitnah dan godaan-godaannya. Air juga apabila diambil sesuai keperluan, maka akan sangat bermanfaat dan dapat menumbuhkan. Namun jika melebihi keperluan dapat membahayakan dan membinasakan. Berkenaan dengan hal ini suatu saat Rasul pernah menjawab pertanyaan seorang laki-laki: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku menginginkan menjadi orang yang beruntung?” Rasulullah saw menjawab: “Tinggalkanlah keinginan berlebihan akan dunia. Ambillah dari padanya seperti mengambil air yang diam; mengambil sedikit mencukupi, mengambil banyak dapat mencelakai” (5)

Air hujan itu kemudian bercampur dengan tanah (فَاخْتَلَطَ بِهِ) dan kemudian dihisap oleh (akar) benih dan menumbuhkan kecambah (نَبَاتُ الْأَرْضِ), bakal pohon yang amat ringkih. Pelan-pelan kecambah tersebut menguat, menumbuhkan batang, dahan dan rantingnya. Daun-daunnya menghijau, bunganya merekah serta buah-buahnya bermunculan nan ranum.  Namun tak berselang lama, pohon yang hijau dan berbuah indah itu perlahan mengering, ditinggalkan air yang menghidupinya hingga pudar dan remuk (هَشِيمًا). Saat ia sudah menjadi reruntuhan remuk yang hancur berkeping-keping, anginpun mampu menerbangkan semaunya (َذْرُوهُ الرِّيَاحُ).

Allah memilih air (hujan) sebagai inti dari tamtsil kehidupan dunia ini. Air disepadankan dengan daya hidup. Seperti tanah dan benihnya yang berasal dari bumi, ia baru bisa tumbuh jika terbasahi oleh air dari langit. Manusia juga terbuat dari jasad yang berasal dari bumi, dan ia baru hidup saat Allah turunkan ‘ruh’ dari langit. Saat ruh itu bercampur dengan jasad di rahim seorang ibu, ia perlahan setelah 9 bulan akan keluar seperti kecambah yang membelah tanah, bayi mungil itu akan membelah jalan persalinan seperti kecambah yang ringkih. Bayi itu perlahan tumbuh, tulang dan ototnya menguat, tampan dan cantik parasnya, serta berbagai prestasi duniawi perlahan diraihnya.

Anehnya seperti kebanyakan orang yang lupa dan tidak ingat akan air yang mengalir pada sebatang pohon, karena hanya terkesima dengan bentuk luar dari pohon itu (daun, batang, bunga dan buah). Manusia sering hanya tertambat kepada badan dan kebutuhan fisik-materialnya. Ia melupakan ruh yang mengalir dalam dirinya dan merupakan hakikat dirinya. Ia tidak memperhatikannya dan lalai untuk merawat kebutuhan ruhaninya.

Ayat ini mengingatkan seperti pohon yang tidak berselang lama karena kemudian berubah menjadi hasyiim yang mengering dan hancur, manusia juga tidak akan lama mendiami bumi ini. Perlahan dan pasti ruhnya akan meninggalkannya dan kembali ke asalnya. Sementara jasadnya perlahan akan hancur, mengering dan remuk hingga anginpun mampu menerbangkannya. Bahkan jeda perubahan itu begitu singkat karena Allah melukiskan dengan kata ‘ashbaha’ (فَأَصْبَحَ,) yang seakan-akan ia hanya terjadi dalam hitungan waktu sehari saja.

Allah mengunci ujung ayat ini dengan kalimat menarik, “Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Kata maha kuasa di ujung ayat ini digambarkan secara unik, tidak dengan kata qadiir tapi muqtadiir (مُقْتَدِرًا). Qadiir adalah kata sifat yang menjelaskan bahwa Allah Maha Kuasa namun tidak selalu berarti bahwa Allah sedang menjalankannya saat ini. Adapun Muqtadir  menunjukkan makna bahwa Allah tidak saja Maha Kuasa tapi Allah sedang dan terus menjalankan kekuasaannya detik ini untuk mengatur dan menentukan kadar apapun saja termasuk berapa lama kita melakoni hidup dunia ini. Seperti air yang meninggalkan tanaman dan menguap ke langit, ruhmu tidak lama lagi juga akan dicabut dan diterbangkan kembali ke langit untuk dimintai pertanggung jawabannya.

End Notes
1. Lihat al-Mu’jam al-Wasith: Lisan al-Arab: al-Mu’jam al-‘Arabiyyah al-Mu’ashir
2. Lihat Ibn Kathir; Le Gassick, Trevor; Fareed, Muneer. The Life of the Prophet Muhammad: Al-Sira Al-Nabawiyya. p. 132. Razvi, Haafiz Mohammed Idrees (2009). Manifestations of the Moon Of Prophethood. Imam Mustafa Raza Research Centre Overport. p. 18
3. Lihat tafsir Ibn Katsir, Tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Tafsir Ruh al-Ma’ani
4. Lihat Tafsir al-Qurthubi. . وقالت الحكماء: إنما شبّه تعالى الدنيا بالماء لأن الماء لا يستقر في موضع، كذلك الدنيا لا تبقى على واحد، ولأن الماء لا يستقيم على حالة واحدة كذلك الدنيا، ولأن الماء لا يبقى ويذهب كذلك الدنيا تفنى، ولأن الماء لا يقدر أحد أن يدخله ولا يبتلّ كذلك الدنيا لا يسلم أحد دخلها من فتنتها وآفتها، ولأن الماء إذا كان بقدرٍ كان نافعاً مُنْبِتًا، وإذا جاوز المقدار كان ضاراً مهلكاً، وكذلك الدنيا الكفافُ منها ينفع وفضولها يضرّ. وفي حديث النبيّ صلى الله عليه وسلم: قال له رجل: يا رسول الله، إني أريد أن أكون من الفائزين؛ قال: " ذَرِ الدنيا وخُذ منها كالماء الراكد فإن القليل منها يكفي والكثير منها يُطغي ".
5. Lihat Tafsir Ruhul Maani; Nabat diapaki diayat ini untuk menggambarkan tumbuhan yang baru muncul sebagi tunas. Kata nabat sendiri secara bahasa berarti  tumbuh. Kata nabat juga dirujukkan kepada seseorang yang mulai tumbuh rambut kemaluannya sebagai tanda bahwa ia sudah tumbuh dewasa (grown up).
6. Lihat Tafsir al-Sya’rawi

___
*Khodim MLC, Ustadz Mokhammad Yahya

No comments:

Post a Comment